Ada Tidaknya Tuhan Merupakan Realitas Tanpa Bukti ( 1 )
Ada Tidaknya Tuhan Merupakan Realitas Tanpa Bukti ( 1 ). Postingan ini merupakan Jawaban dan Penjelasan atas pertanyaan salah seorang sahabat blogger yang meminta bukti dan pembuktian tentang keberadaan tuhan.
Sebelum saya mencoba menjawab dan menjelaskan tentang bukti adaya tuhan atau tidak adanya tuhan sesuai dengan pertanyaan yang diajukan dan mungkin secara berturut – turut juga beberapa pertanyaan sahabat blogger yang lain yang belum sempat dijawab, pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan bahwa, setiap pertanyaan, sanggahan atapun bantahan disamping bisa disampaikan melalui kotak komentar yang tersedia pada blog “ Kajian Hakikat Tauhid “ ini, siapapun, baik pengunjung dan pembaca ataupun yang hanya berkebetulan mampir ke blog “ Kajian Hakikat Tauhid “ ini juga bisa menyampaikan pertanyaan, sanggahan ataupun bantahanannya melalui Facebook yang beralamat di http://facebook.com/myrazano
Karena space hosting ( ? ) yang tersedia dari blog “ Kajian Hakikat Tauhid ““ Kajian Hakikat Tauhid “Facebook “ ( Blog “ oyonk.com “ yang berisi kumpulan artikel islam mungkin akan menyusul karena persoalan yang sama ) ini sudah hampir habis ( 90 % lebih ), sedangkan untuk melakukan penambahan, karena situasi krisis ekonomi global yang dikhawatirkan bisa berdampak sistemik dari dapur ke kasur, maka saya berniat dan berencana untuk memindahkan sebagian postingan di Blog ini ke “
Selanjutnya, apabila ada pihak donator yang berkenan memberikan bantuan tanpa ikatan atau tanpa persnyaratan apapun silahkan berhubungan langsung dengan pihak rumahweb.com tempat blog “ Kajian Hakikat Tauhid “ ini dan blog “ oyonk.com “ ditambatkan. Dan dengan segenap kerendahan hati dan dari hati saya yang paling dalam saya dan keluarga menyampaikan terimakasih yang sebesar – besarnya atas dukungan yang telah diberikan selama ini dan dukungan yang akan diberikan demi kemajuan blog “ Kajian Hakikat Tauhid “ ini. Insya Allah, Tuhan tidak pernah lupa dan tidak pernah tidur dalam memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada hamba-hamba yang diridhai-Nya. amin
Sesungguhnya Realitas ketuhanan merupakan tataran keimanan, sehingga tidak ada cara atau metoda yang sesungguhnya mampu secara sempurna mengungkap realitas tersebut. Karenanya, Allah melalui Rasul-Nya Muhammad SAW menempatkan realitas ketuhanan itu dalam salah satu rukun iman yang manusia tidak diberi hak dan kuasa untuk mempelajari dan memikirkan hal ikhwal tataran tersebut secara penuh dan sempurna. Sebagai makhluk, kita lebih banyak dituntut untuk percaya dan meyakini realitas ketuhanan tersebut secara mutlak.
Melalui pemahaman tersebut dan untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana caranya untuk meyakinkan diri kita sendiri dan atau orang lain bahwa Tuhan itu benar – benar ada tentunya diperlukan pendekatan keimanan atau keyakinan yang bisa diterangkan dan direntangkan sedemikian rupa secara normatif sesuai dengan penguasaan keilmuan dan wawasan subyektifi masing – masing individu
Adanya alam ini dengan segenap keteraturan dan keindahannya sudah cukup menjadi bukti bahwa semua itu tidak terjadi dengan sendirinya atau semua itu tentunya tidak terjadi secara kebetulan saja, melainkan pasti ada suatu kekuatan dan kekuasaan yang luar biasa besar Sang Maha Pencipta yang telah menciptakan keindahan tersebut dengan segenap keteraturannya melalui perhitungan yang super cermat dan teliti pada setiap maha karya tersebut
Kesemua itu merupakan jejak yang meninggalkan bekas dalam artian bahwa sesuatu yang dilihat dan dirasa pada suatu kejadian saat ini merupakan akibat dari sebuah sebab yang terjadi sebelumnya. Adanya jejak kaki yang tertinggal merupakan bukti behwa tempat tersebut pernah dilalui, sehingga adanya alam ini merupakan suatu bukti bahwa ada yang telah menciptakannya.
“ Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui “. ( QS : 015 : Al Hijr : ayat : 86 )
Terlepas dari semua pendekatan yang telah dilakukan untuk membuktikan dengan pasti tentang keberadaan tuhan, pada hakikatnya tetap saja secara objektif tidak akan mampu membuktikan keberadaan tuhan itu sendiri, sehingga pendekatan – pendekatan yang telah dilakukan hanya bersifat subyektif individual yang belum tentu akan sama pemahamanya dengan individu yang lain yang mungkin saja mempunyai pendapat lain yang bersifat subyektif pula.
Sampai sejauh ini, belaum ada satupun pendekatan yang bisa dipakai yang benar – benar mampu membuktikan keberadaan tuhan yang sesungguhnya. Semua pendekatan yang ada hanyalah bersifat dalil atau rujukan untuk melahirkan keyakinan subyektif tanpa dapat membuktikan bahwa tuhan yang diyakini itu benar – benar ada. Apabila dilanjutkan dengan rentetan pertanyaan lanjutan dari setiap pola pendekatan itu, tetap saja bermuara pada satu dari dua jawabab yang saling bertolak belakang yaitu “ sesungguhnya tuhan itu tidak ada “ atau “ sesungguhnya tuhan itu ada “
Teori evolusi yang merupakan sebuah teori kontroversial yang sampai saat ini tidak ada atau belum ada seorang pun ilmuan di dunia ini yang bisa menerima secara mutlak walau sampai saat ini tidak ada atau belum ada seorang pun ilmuan di dunia ini yang mampu membantah teori evolusi tersebut secara utuh dan sempurna. Kenyataan tersebut merupakan bukti konkrit, bahwa karena keterbatasan kemampuan manusia sebagai makhluk, maka kebenaran yang sesungguhnya itu bersifat sangat relatif
Karena sifatnya yang sangat relatif, maka sudah banyak dab banyak sekali orang alim yang terjebak dan tersesat dalam jebakan pertanyaan itu. Termasuk dua pertanyaan lain yang sudah disampaikan melalui kotak komentar yang tersedia dan melalui Facebook yang mengandung jebakan berbahaya dan sangat berpotensi secara sistemik menghancurkan Aqidah Tauhid yang menjadi landasan utama dari ajaran Islam sebagai Agama Tauhid Terakhir.
Sebelum saya lanjutkan jawaban dan penjelasan pada postingan selanjutnya, perlu saya sampaikan bahwa, saya tidak bermaksud dan tidak beranggapan bahwa sahabat blogger yang yang menyampaikan pertanyaannya berniat dan bertujuan untuk menjebak saya atau siapa pun, melainkan pertenyaan tersebut sesungguhnya adalah pertanyaan yang wajar dan sebelumnya juga sudah pernah ditanyakan kepada para orang alim terdahulu, sehingga saya berpendapat ; patut diduga bahwa Ibnu Taimiyah ( Insya Allah, masaalah firqah – firqah dalam Islam secara mendalam akan dibahas dalam kajian tersendiri pada blog ini, sekarang category dan materinya dalam persiapan akhir ) yang termasuk dalam golongan kaum Musyabbihah yang ajarannya dikembangkan melalui aliran Wahabi, Aqidahnya tersesat karena jebakan pertanyaan jenis ini. [ Jawaban dan Penjelasan ]
Mungkin Artikel Ini Yang Anda Butuhkan ...
- Jawaban Tentang Hakikat Allah ( 1 )
- Metoda Pemahaman Ilmu Tauhid
- Mengapa Harus Belajar Tasawuf ?!
- Ibadah itu Hukumnya Haram
- Seberapa Kafirkah Kita ?!
- Bertasawuf Dalam Syariat
- Agama, Pembebanan Yang Membebani
- Mendudukkan Perkara Bid’ah Dengan Benar ( 1 )
- Mendudukkan Perkara Bid’ah Dengan Benar ( 2 )
- Jawaban dan Penjelasan ( 2 )
- Mendudukkan Perkara Bid’ah Dengan Benar ( 3 )
- Jawaban dan Pejelasan ( 3 )
- Kejelasan Rasionalitas Al-Qur’an
- Ada Tidaknya Tuhan Merupakan Realitas Tanpa Bukti ( 2 )
- Ada Tidaknya Tuhan Merupakan Realitas Tanpa Bukti ( 2 )
- Ada Tidaknya Tuhan Merupakan Realitas Tanpa Bukti ( 3 )
- Ada Tidaknya Tuhan Merupakan Realitas Tanpa Bukti ( 4 )
- Salah Satu Bukti Keaslian Al-Quran
- Hakikat Al - Quran Sebagai Kitab Hikmah
- Pengertian dan Hakikat Al-Asma Al Husna
- Hukum Ataukah Pesanan Dibalik Penangkapan Ariel Peterpan?



April 7th, 2010 at 3:30 pm
Ada Tidaknya Tuhan Merupakan Realitas Tanpa Bukti ( 1 )
Kalimah ini bertepatan untuk menjawap persoalan ini dan inilah buktinya…
TIADA TUHAN YANG DISEMBAH, MELAINKAN ALLAH DAN SESUNGUHNYA MUHAMMAD ITU PESUROH ALLAH
April 27th, 2010 at 7:13 pm
Pertanyaan mendasar sebelum beranjak ke kajian yang lebih serius:
1. Apa kriteria suatu pemikiran disebut Rasional?
2. Apa definisi ontologis dari “Keberadaan”?
April 28th, 2010 at 11:37 am
@radhi : sip. terimkasih atas dukungannya
@nafis :
1. Pemikiran dikatakan rasional apabila mampu diterjemahkan dan diterima oleh akal yang sehat dengan tetap mengikuti kaidah – kaidah yang berlaku yang sudah ada sebelumnya serta masih berlaku sampai sekarang
Sedangkan rasionalitas pemikiran manusia bersifat temporer sampai terbentuknya suatu kaidah yang baru yang akan menjadi landasan pemikiran berikutnya
Agama dan keyakinan adalah rasionalitas iman yang berlaku abadi berdasarkan atas kebenaran ajaran agama tersebut.
2. Ontologi adalah tentang objek yang ditelaah ilmu dengan objek yang jelas baik dalam pandangan syariat ataupun secara hakikat.