Mursyid Bukan Badut Bersorban
Mursyid Bukan Badut Bersorban. Mursyid atau guru mursyid adalah guru hidup yang kepadanya kita belajar dan dari padanya kita mendapatkan pemahaman tentang hakikat keesaan Allah swt. Dalam mempelajari ilmu tauhid, seorang murid atau salik mutlak mempunyai seorang mursyid atau seorang guru hidup. Melalui seorang guru tersebutlah Allah swt akan membukakan tentang rahasia-rahasia tauhid dan kekuasannya kepada kita.
Sesuai namanya, mursyid atau guru hidup berarti sang guru tersebut adalah benar-benar hidup dalam arti yang sesungguhnya. Bukan iblis yang menyamar sebagai roh para wali yang masuk kepada jasad sesorang. ( hal ini lebih banyak dilakukan oleh iblis dari kelompok jin ) Kemudian bertindak sebagai guru dengan berpura-pura menjadi roh syekh ini atau roh syekh itu. Padahal yang namanya iblis, tugasnya adalah untuk menyesatkan aqidah umat manusia.
Hal ini sangat penting untuk diketahui dan difahami karena myrazano pernah bertemu dengan sorang ustadz ( katanya ) yang sudah cukup terkenal dilingkungannya. Dalam suatu kesempatan sang ustadz tersebut dengan sedikit perasaan bangga menceritakan bahwa dia sudah pernah belajar tauhid dengan para wali songo ( sembilan wali yang terkenal sebagai penyebar agama islam pertama di tanah Jawa ) yaitu dengan cara arwah para wali itu secara bergantian setiap minggu memasuki tubuh seorang anak kecil dan kemudian melalui tubuh anak kecil itulah arwah para wali itu menyampaikan ilmu-ilmunya.
Ketahuilah bahwa sesungguhnya semua itu adalah tipu daya iblis semata terutama iblis dari kelompok jin yang memang mempunyai kemampuan untuk itu dan target marketnya memang orang-orang yang mempunyai keinginan nafsu menguasai suatu ilmu agama secara berlebihan dan orang-orang alim yang tidak mampu mengendalikan nafsunya sendiri.
Fonomena dan kejadian tersebut merupakan sebuah akibat dari proses pembelajaran tauhid yang menyimpang dari tata cara yang berlaku secara umum dan yang telah disyariatkan dalam kaidah-kaidah pembelajaran tauhid yang dipraktekkan semenjak dari zaman Rasulullah saw masih hidup, sampai kepada generasi sahabat dan seterusnya. Proses pembelajaran ilmu tauhid yang benar melalui melalui seorang mursyid / guru hidup akan mengakibatkan pemahaman yang terbentuk dalam diri seorang salik atau murid tetap berada dalam pengawasan dan pemantauan mursyid atau gurunya
Namun perlu juga difahami bahwa kejadian tersebut tidak bisa dipersalahkan seluruhnya kepada orang-orang telah ditipu oleh iblis itu, karena sebagian besar penyebab mereka terjebak dalam tipu daya iblis dikarenakan, susahnya mereka untuk menemukan seorang guru yang benar-benar mampu untuk memenuhi dahaga batin mereka tentang hakikat ilmu itu.
Kebanyakan dari kita lebih aktif mengikuti ceramah-ceramah agama melalui radio, tv dan lainnya yang sejenis, atau bagi yang suka membaca akan mencoba belajar dan mempelajari tentang hakikat tauhid itu melalui buku-buku yang banyak tersebar ditoko-toko buku. Karena ceramah-ceramah yang disampaikan para ustadz di masjid dan mushala-mushala lebih bersifat umum saja yang kadang-kadang tidak lebih dari seorang badut bersorban karena ternyata dia lebih mampu memberikan hiburan segar tehadap jamaahnya
Proses pembelajaran tersebut menjadi sangat berpotensi untuk menimbulkan pemahaman yang sesat dan menyesatkan, karena pemahaman ilmu tauhid, sifatnya sangat berbeda dengan pemahaman cabang ilmu-ilmu lain yang jelas aplikasinya. Sedangkan ilmu tauhid bukan ilmu yang mempunyai aplikasi ibadah tersendiri tetapi pemahamannya berada dalam setiap rangkaian ibadah yang dilaksanakan. Tanpa didasari dengan pemahaman tauhid yang benar, bisa saja ibadah tersebut menjadi dosa syirik yang tidak terampuni.
Diakui atau tidak, disadari atau pun tidak, setiap diri akan selalu mencari dan akan terus mencari tentang hakikat dirinya dan hakikat tuhannya, karena semua itu merupakan sebuah refleksi dari ketidak berdayaan makhluk. Sekafir-kafirnya manusia pasti ada sedikit iman yang tersembunyi dalam sanubarinya,
Seorang Firaun yang dengan sombong telah mempertuhankan dirinya, tidak bisa dengan serta merta dikatakan tidak mempunyai keimanan kepada Tuhan swt, tapi karena pencariannya terhadap Tuhan sesuai dengan tuntutan imannya tidak ditemukan, maka segenap kelebihan yang dianugrahkan Allah swt kepadanya telah melemahkanya terhadap godaan nafsu yang dikendalikan iblis sehingga akhirnya dia mempertuhankan dirinya sendiri
Sehingga, sehebat atau semampu apapun kita dalam mempelajari banyak cabang-cabang ilmu pengetahuan, dalam ilmu tauhid kemampuan tersebut akan sangat gampang untuk dipengaruhi oleh iblis, sehingga tidak ada alasan yang cukup kuat bagi kita untuk tidak mempelajari dan memahami ilmu tauhid melalui perantaraan seorang mursyid atau guru hidup karena kepadanyalah Allah swt telah menitipkan sebagian rahasia dan petunjuk jalan yang lurus untuk bertemu dengan-Nya sekarang dan nanti
Mungkin sedemikan dulu sebagai kajian pembuka tentang Hakikat Mursid dalam Pembelajaran Tauhid ini dan akan kita lanjutkan pada postingan yang akan datang. Insya Allah. Jangan pernah sungkan untuk bertanya dan mendiskusikan seputar kajian yang disampaikan dalam blog ini kepada para guru kita yang ada di majelis masing-masing dan sampaikan juga salam myrazano kepada beliau sekaligus tolong mohonkan doa dan restunya semoga kami sekeluarga selalu dalam limpahan rahmat dan kasih sayang Allah swt dengan segala niat yang baik dan kebaikan yang menyertainya.
Tinggalkanlah komentar anda tentang materi yang dibahas apabila memang tidak ada yang perlu dipertanyakan atau lebih diperjelas lagi. Dengan meninggalkan komentar pada kotak yang tersedia secara jujur akan memberikan kepuasan dan semangat tersendiri kepada saya. Bukankah sebaik-baiknya hidup adalah yang memberi manfaat terhadap orang lain ?



April 2nd, 2009 at 3:49 am
saluut…!
posting yang berani dan apa adanya.
minta ijin ngelink postingnya
September 6th, 2009 at 10:39 am
terima kasih atas posting nya, semoga mendapat rahmat dari Allah ,
benar-benar bagus dan menyadarkan orang lain , tapi ada satu hal yang saya kurang suka meskipun itu sdh sesuai temanya . tentang penceramah yang hanya bisa menghibur umat , bahwa sebenarnya dalam menyampaikan ilmu itu ada syaratnya , misalnya murid harus benar-benar mampu / paham dgn yang disampaikan gurunya. pada umumnya kalau di pondok pesantren , seorang murshid yang memilih muridnya untuk diajarkan ilmu tauhid . kalau penceramah di masjid -masjid saya rasa sudah sesuai dgn keadaan jamaahnya
yang lebih banyak ibu-ibunya juga nenek-neneknya yg tdk mungkin untuk diajak serius, itu saja coment saya , jujur saya suka dgn posting ini karna saya adalah penggemar Tauhid dan Tasawuf , semoga manfaat bagi kita semua
April 28th, 2010 at 4:11 pm
@mahesa : terimkasih atas kunjungannya
@Qedah Rianto : benar juga mas ..
April 29th, 2010 at 4:01 am
salam,
terima kasih diatas posting yang agak jelas ini. Sememangnya baru-baru ini saya didengarkan kisah-kisah pengalaman dari seseorang yang berguru dengan musyid [dari anaknya]. Kisah himpunannya memang jarang sekali didengar. Tetapi jiwa saya masih di paras berfikir dan saya tidak pasti ke arah mananya untuk saya fikirkan itu. Sehingga saya menggunakan SEO untuk santapan bagi saya lebih berfikir, banyak ulasan mengenai guru mursyid ini dibincangkan. Apapun, terima kasih untuk entri ini.