JavaScript: JavaScript:
Nur Muhamnmad adalah Realitas Ruhani. Sesungguhnya yang pertama sekali diciptakan Allah SWT adalah suatu realitas gaib yang bersifat ruhani sebagaimana yang telah disampaikan Rasulullah Muhammad SAW yaitu bahwa yang mula – mula diciptakan oleh Allah adalah Nur Muhammad yang diciptakan dari cahaya Ketuhanan. Selanjutnya juga disampaikan bahwa yang pertama sekali diciptakan adalah Qalam dan ‘Aqal, sehingga realitas ruhani dari hakikat Nur Muhammad tersebut difahami dalam beberapa realitas konsep yang pada hakikatnya adalah satu yaitu Sifat dari Zat yang bernama Allah
Kedudukan Rasulullah SAW dalam Ayat Salawat. Setelah kita mencoba memahami Hikmah dan Keutamaan Shalawat Bagi Manusia pada kajian yang lalu, maka pada kajian ini kita akan mencoba melanjutkan bahasan dalam category “ kajian salawat “ dalam blog “ Kajian Hakikat Tauhid “ ini dengan mengangkat pokok bahasan tentang “ Kedudukan Rasulullah SAW dalam Ayat Salawat “.
Sebelum Allah Menjadi Tuhan. Ketika semua makhluk belum ada, bumi dan langit belum diciptakan, surga dan neraka belum ada. Kondisi itu oleh kalangan para ahli tasawuf di dikenal dengan sebutan “ Alam Sunyi “. Pada kondisi Alam Sunyi tersebutlah Zat berdiri dengan nur-Nya dan dengan Nur-Nya itu Zat berdiri dengan sendirinya serta dengan Nur-Nya itu Zat terdiri dengan sendirinya, tanpa sebab yang menyebabkannya.
Hakikat Salawat Malaikat kepada Nabi Muhammad saw. Setelah cukup lama tertunda catgory “ Kajian Salawat “ ini, kali ini saya akan mencoba melanjutkannya setelah pada postingan sebelumnya difahami hakikat salawat Allah terhadap nabi Muhammad saw ( mungkin bisa dibaca disini ). Kali ini dengan tetap mengacu kepada ayat ke – 56 dari Al-Quran surat al-Ahzab yang berbunyi “ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk nabi, Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya “
Hakikat salawat malaikat dalam kontek ayat tersebut dapat dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda dengan tujuan yang tetap mengarah pada satu titik yang sama yaitu kemuliaan dan kesejahteraan kepada nabi Muhammad saw sebagai makhluk yang agung disisi Allah swt.
Hakikat Salawat Allah Kepada Nabi Muhammad Saw. Sebagaimana yang yang telah disampaikan dalam kajian tentang salawat sebelumnya bahwa, kata salawat adalah kata yang diperkenalkan sendiri oleh Allah swt melalui ayat Al-Quran surat al-Ahzab ayar 56 yaitu “ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk nabi, Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya “
Salawat Allah swt terhadap nabi Muhammad saw telah difahami sebagai rahmat yang terlihat dengan pemakaian kata “ nabi “ sebagai target atau sasaran salawat. Bukan nama dari nabi saw yaitu “ Muhammad “. Kata nabi tersebut sebagaimana yang sudah diketahui adalah jabatan bagi seorang hamba yang ditugaskan mengemban amanah atas syariat yang diwahyukan dengan tidak ada kewajiban atasnya untuk menyampaikan kepada umatnya.
Berbeda dengan “ rasul “ yang juga pengemban amanah atas syariat yag diwahyukan tetapi disertai dengan kewajiban untuk menyampaikan kepada umat tempat rasul tersebut diutus, sehingga setiap nabi belum tentu sebagai rasul tapi setiap rasul sudah pasti juga seorang nabi
Hakikat Salawat. Salam Bernilai Sama Dengan Salawat. Sebagamana halnya dengan salawat, salam dinilai sama dengan salawat karena dalam ayat Al-Quran tentang salawat pada surat al-Ahzab ayar 56 yang berbunyi “ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk nabi, Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya “
Dari ayat tersebut terlihat bahwa, perintah bersalawat dan salam disampaikan secara bersamaan dan myrazano belum menemukan ada dalil lain yang membedakan antara salawat dan salam yang berasal dari Al-Quran dan hadist Nabi saw selain dari perbedaan penafsiran hukum para ulama tentang salawat dan salam.
Hakikat Salawat. Salawat Memuliakan Ibadah Wajib. Salawat. Imam al-Majidu menerangkan bahwa kata salawat terdiri dari tiga suku kata yaitu shad, lam dan waw atau shad, lam dan ya yang sebenarnya berasal dari satu arti yaitu berkumpul dan berserikat. Dengan pengertian bahwa dalam salawat terkandung dua makna secara bersamaan yaitu makna lahir dan makna batin yang mencakup segala kebaikan seluas nilai kebaikan itu sendiri.
Pergeseran dan perubahan makna dari kata salawat tersebut lebih disebabkan karena perbedaan pemakaian dalam kalimat saja, sehingga pendapat yang menyatakan bahwa, kata salawat berasal dari kata mushalli gugur dengan sendirinya. Selanjutnya menurut imam al-Majidu, kata mushalli berati melanjutkan atau melestarikan tradisi lama yang ditiru dari orang lain.